Tag Archives: Hilangnya Fungsi Air

3. Bab | Menerangkan Tentang Hilangnya Fungsi Air Sebagai Pencuci

Hadist No. 9 :

Dari Abi Hurairah, bahwa Nabi SAW. Bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kamu mandi di dalam air yang diam, sedang ia dalam keadaan junub”, lalu mereka bertanya: ”Wahai Abi Hurairah, lalu bagaimana ia harus berbuat ? Ia menjawab: “ia menciduknya dengan cidukan”. (HR. Muslim dan Ibnu Majah) .

Hadist No. 10 :

Dan bagi Ahmad dan Abi Dawud, (dikatakan): “Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kamu, kencing didalam air diam, dan janganlah ia mandi janabat di dalamnya.

Hadist No. 11 :

Dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abdillah bin Muhammad bin Uqail, ia berkata: “Aku diberi tahu Rubayyi’ binti Mu’awwadz bin Afralalu menyebutkan hadist wudlu’nya Nabi SAW. Dan didalamnya (terdapat): “Dan Nabi SAW. Mengusap kepalanya dua kali dengan air sisa wudlu’nya yang ditanganya; Ia memulai dari belakang (Kepalanya), kemudian ia teruskan ke ubun-ubunnya, dan membasuh kedua kakinya tiga kali-tiga kali”. HR Ahmad dan Abi Dawud dengan diringkas, dan lafadz Abu Dawud: (dikatakan): ”Sesungguhnya Rasul SAW. Mengusap kepalanya dengan sisa yang ada di dua tangannya” . Tirmidzi berkata: “Abdullah bin Muhammad bin Uqail adalah orang baik” . Tetapi sebagian mereka (Ahli hadist) membicarakannya dari segi hafalannya. Dan Al Bukhari berkata: “Adalah Ahmad, Ishaq dan Humaidi menjadikan hadis Abdullah sebagai hujjah”.

Penjelasan


Perkataan: “Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kamu mandi di dalam air diam, sedangkan ia dalam keadaan junub” itu, syarih berkata: Sungguh sebagian besar ahlil bait, Ahmad, Al Laits, Al Auza’i, As Syafi’i dan Malik dalam salah satu dua riwayatnya, dan Abu Hanifah dalam satu riwayatnya, berpendapat, bahwa air musta’mal itu tidak dapat mensucikan, sedangkan syarih memperkuat atas tetapnya air musta’mal dalam keadaan kesuciannya dan tetap sebagaimana asalnya.

Syarih berkata : Mushannif menjadikan dalil hadis dalam Bab ini atas tidak patutnya air musta’mal itu untuk bersuci, lalu ia berkata : Larangan mandi di dalam air diam itu, menunjukkan atas tidak sahnya dan tidak mencukupinya, tidak lebih dari itu, kecuali karena menjadi air

musta’mal dengan pertama kali bertemu dengan orang yang mandi itu, dan ini untuk orang yang tidak kena najis, adapun bagi orang yang terkena najis maka mencuci disitu dianggap cukup. *).

Dan perkataan: ” Dan Nabi SAW. Mengusap kepalanya dua kali dengan air sisa wudlu’nya yang ditangannya” itu, hadist ini dijadikan dalil, bahwa air musta’mal yang belum terpisah dari badan, boleh dipergunakan bersuci. Pendapat ini dibantah dengan hadist yang mengatakan, bahwa Nabi SAW. Pernah mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa dari tangannya, sedangkan engkau tahu, bahwa adanya Nabi SAW. Mengambil air baru itu, tidaklah hal itu meniadakan hukum yang terkandung dalam Bab ini, yaitu Rasul SAW </stronitu tidak mengharuskan tidak adanya kejadian yang lain. Selanjutnya mushannif berkata sesudah membawakan hadistg>. telahnya, karena menentukkan sesuatu dengan sesuatu shigat (redaksi), itu hanya menunjukkan suatu kejadian dan bukan untuk membatas (Taqyid), dan tidak pula menafikkan selain itu, oleh karena tersebut:

Dan kalau diperkirakan untuk ditetapkan, bahwa Nabi SAW. Telah mengusap kepalanya dengan air sisa dari basah-basah kedua tangannya, maka tidaklah menunjukkan atas kesucian air musta’mal, karena sesungguhnya air apabila telah berpisah dalam keadaan mensucikan dengan tidak berpisah kelainnya, maka fungsinya dan mensucikannya adalah tetap. ” Oleh karena itu dalam keadaan demikian, perubahan air karena najis dan keran barang-barang suci, tidak menghilangkan fungsinya. Syarih berkata : Dan telah kami sajikan apa yang benar tentang air musta’mal. *)

*). Maksudnya, air musta’mal tidak bisa menghilangkan hadas, hanya bisa menghilangkan najis (pen). Kami berpendapat bahwa air musta’mal tidak ada berdasarkan kepada dlahir hadist no.11.

POSTING-3/Sami’na Waato’na !.