25. | Bab. Bolehnya Minta Bantuan Dalam Berwudlu’

.


.

■ Hadits No. 291 :

Dari Mughirah bin Syu’bah bahwa ia bersama Nabi SAW. di dalam suatu perjalanan, dan ia pergi untuk buang air, lalu Mughirah menuangkan air untuk Nabi saw. sedangkan Nabi saw. berwudlu’, maka ia membasuh mukanya dan dua tangannya dan mengusap kepalanya dan mengusap dua kasutnya. (HR Bukhari dan Muslim)

_____________________________

.

■ Hadits No. 292 :

Dari Shofwan bin Assai, ia berkata: Aku pernah menuang­kan air untuk Nabi SAW. dalam bepergian dan di rumah dalam berwu­diu’. (HR Ibnu Majah).

_____________________________

..

.

Syarih berkata: Hadits ini menunjukkan bolehnya minta tolong kepada orang lain dalam berwudlu’.

.

.

.

POSTING |83| Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)

.

.

█ █

24. | Bab. Berturut-turut Dalam Wudlu’

.

.

■ Hadits No. 289 :

Dari Khalid bin Ma’dan dari sebagian isteri Nabi SAW., bahwa Rasulullah SAW. melihat seorang laki-laki sedang sembahyang, padahal di atas tapak kakinya ada kulit yang mengkilat selebar dirham yang tidak kena air (wudlu’), maka Rasulullah SAW. memerintahkan­nya agar ia mengulangi wudlu’.” (HR Ahmad dan Abu Dawud, dan Abu Dawud menambahkan kata-kata “dan mengulangi sembahyang.”).  Al Atsram berkata: Aku bertanya kepada Imam Ahmad: Adakah sanad hadits ini baik? Ia menjawab: baik.

_____________________________

.

■ Hadits No. 290 :

Dari Umar bin Khatthab, bahwa seorang laki-laki wudlu tetapi ia tidak menyiram kuku bagian atas kakinya, lalu Nabi SAW. melihatnya, maka ia bersabda: “Ulangilah dan perbaikilah wudlu mu. Umar berkata: “Lalu ia mengulangi kemudian wudlu’, lalu sholat.”. (HR Ahmad, dan Muslim tetapi Muslim tidak menyebut: “Lalu ia wudlu’.”

_____________________________

.

.

—————Syarih berkata: Hadits yang pertama menunjukkan wajib mengu­langi wudlu kembali, bagi orang yang tidak menyiram sebagian anggota wudlunya sebesar ukuran yang tersebut dalam hadits itu, dan  hadits kedua, tidak menunjukkan wajibnya mengulangi, karena Nabi SAW. memerintahkan untuk memperbaiki, bukannya mengulangi, sedang memperbaiki cukup dengan menyempurnakan anggota yang tidak tersiram Itu saja, oleh karena itu, hadits pertama menjadi dalil bagi orang yang berpendapat atas wajibnya ‘berturut-turut’ dan hadits kedua menjadi dalil bagi orang yang berpendapat atas tidak wajibnya ‘berturut-turut’. Selesai.

—————Berkata Al muwaffaq di dalam Al Mughni: muwaalaat (berturut-­turut) yang wajib itu ialah tidak ditinggalkannya pencucian suatu anggota sampai menjadi kering pada saat itu, yang telah dicuci sebelumnya (belum lama).

.

.

POSTING |82| Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)

.

.

█ █

23. | Bab. Bacaan Sesudah Wudlu’

.

.

.

■ Hadits No. 287 :

Dari Umar bin Khatthab, ia berkata: Rasululloh SAW. bersabda: “Tidak seorang pun di antara kamu yang berwudlu’ lalu menyempurnakan wudlu’nya kemudian membaca: Asyahadu allaa iIaaha ilIallaah, wahdahuu laa syarieka lah, wa asyhadu anna Muham­madan ‘abduhuu wa Rasululloh, (artinya.) Aku mengakui bahwa tiada Tuhan yang berhak di’ibadahi selain Alloh, yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengakui bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya; kecuali mesti dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan, yang ia akan masuk dari mana ia menghendaki.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).

_____________________________

.

■ Hadits No. 288 :

Dan dari Ahmad dan Abu Dawud dalam satu riwayat (dikatakan): “Barangsiapa berwudlu’ kemudian membaguskan wudlu’­nya, lalu mengangkat pandangannya ke langit seraya membaca: (do’a tersebut di atas), lalu menyebutkan hadits itu seterusnya.

_____________________________

.

.

———-Syarih berkata: Hadits ini menunjukkan dianjurkan membaca do’a tersebut, dan tidak sah adanya hadits-hadits do’a wudlu’ selain itu.

———-Ibnul Qayyim berkata: Dan tidak terdapat riwayat dari Nabi SAW. selain tasmiyyah (membaca Bismillah) pada permulaan wudlu’, dan do’a asyhadu allaa iIaaha iIIallah wahdahuu laa syarieka lah, wa asyhadu anna muhammadan abduhuu wa rasuuluh, alIaahummaj ‘alnie rninatawwaabiena waj ‘alnie minal mutathahhirien.

———-Artinya: Aku mengakui bahwa tiada Tuhan-yang berhak diibadahi- selain Alloh, yang maha esa, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku mengakui, bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, yaa Allah, jadikanlah aku termasuk di antara orang­orang yang tobat, dan jadikanlah aku termasuk di antara orang-orang suci.

.

POSTING |81| Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)

.

.

█ █

22. | Bab. Tentang Sekali, Dua Kali, Dan Tiga Kali Dalam Wudlu’, Tidak Boleh Lebih

.

.

.

■ Hadits No. 283 :

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi SAW. berwudlu’, sekali, sekali. (HR Jama’ah kecuali Muslim).

_____________________________

.

■ Hadits No. 284 :

Dan dari Abdullah bin Zaid, bahwa Nabi SAW. berwudlu’, dua kali dua kali. (HR Ahmad, dan Bukhari). Tapi dalam bab ini, Bukhari meriwayatkannya dari Abi Hurairah dan Jabir.

_____________________________

.

■ Hadits No. 285 :

Dan dari Usman, bahwa Nabi SAW. berwudlu’ tiga kali tiga kali. (HR Ahmad dan Muslim).

_____________________________

.

■ Hadits No. 286 :

Dan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari datuknya, ia berkata: Datanglah seorang Baduwi kepada Rasulullah SAW. menanya­kan masalah wudlu’, lalu Rasulullah SAW. memberitahukannya tiga kali tiga kali dan bersabda: Itulah (bilangan) wudlu’, maka barangsiapa menambah dari itu, maka ia telah berbuat kejelekan, pelanggaran dan dhalim. (HR Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Majah).

_____________________________

.

——————–Syarih rahimahullah berkata: Hadits ini menunjukkan wajibnya wudlu’ adalah sekali, dan oleh karena itu Nabi SAW. mencukupkan dengan sekali saja, dan kalau dua kali dan tiga kali itu wajib, maka tentu Nabi SAW. tidak akan mencukupkan dengan sekali.

——————–Syekh Muhyiddin An Nawawi berkata: Ulama’ telah ijma’, bahwa yang wajib dalam membasuh anggota-anggota adalah sekali sekali, sedang membasuh tiga kali itu adalah sunat. Dan terdapat hadits-hadits shahih yang menerangkan adanya membasuh sekali sekali, dua kali dua kali, dan juga tiga kali tiga kali, demikian juga sebagian anggota tiga kali dan sebagian yang lain dua kali, sedang perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bolehnya itu semua, sedang tiga kali itu adalah merupakan kesempumaan dan sekali itu mencukupi.

——————–Perkataan “Beginilah wudlu”, maka barangsiapa menambah, maka ia berbuat kejelekan, melanggar dan “dlalim” itu, syarih berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa melebihi tiga kali membasuh adalah termasuk melebihi batas dalam bersuci. Imam Ahmad berkata: Tidak ada yang menambah dari tiga kali melainkan orang yang kurang sehat akalnya.

.

POSTING |80| Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)

.

.

█ █

21. | Bab. Mendahulukan Anggota Wudlu’ Yang Sebelah Kanan

.

■ Hadits No. 281 :

Dari Aisyah, ia berkata: Adalah Nabi SAW. menyukai mendahulukan yang kanan, dalam memakai sandalnya, berjalan, bersuci, dan dalam segala urusannya. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim).

____________________

.

■ Hadits No. 282 :

Dan dari Abu Hurairah ra., bahwa Nabi SAW. bersabda: “Apabila kamu berpakaian, dan apabila kamu wudlu’, maka mulailah dengan anggota-anggota kananmu.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

____________________

.

———-Syarih berkata: Di dalam hadits ini menjadi dalil diperintahkannya memulai dengan sebelah kanan, dalam memakai sandal, menyisir rambut, dan dalam bersuci, maka ia memulai dengan tangannya yang kanan sebelum yang kiri, dan kakinya yang kanan sebelum yang kiri, dan dengan sebelah kanan dari semua anggota badan di basuh sebelum yang sebelah kiri.

———-Syarih berkata: Ulama telah ijma’, bahwa mendahulukan yang kanan di dalam wudlu’ itu adalah sunat, maka barangsiapa yang menyalahinya, maka ia tidak memperoleh keutamaan, tetapi wudlu”­nya telah sempuma. █

.

POSTING | 79| Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)

.

.

█ █

20. | Bab. Wajib Membasuh Dua Kaki

.

.

.

■ Hadits No. 276:

Dari Abdillah bin Amr, ia berkata: Rasululloh SAW. pernah tertinggal dari kami dalam suatu bepergian, lalu ia menyusul kami, sedang waktu ashar telah meliwati kami, maka kami mulai berwudlu’ dan mengusap kaki-kaki kami. Abdullah bin Arnr berkata: Kemudian Nabi SAW. memanggil dengan suaranya yang tinggi: “Celaka bagi tumit-tumit dari neraka“, dua kali atau tiga kali. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim).

_________________________

.

■ Hadits No. 277:

Dan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW. pemah melihat seorang laki-Iaki yang tidak membasuh tumitnya, lalu ia bersabda: “Celaka bagi tumit-tumit dari neraka.” (HR Muslim).

_________________________

.

■ Hadits No. 278:

Dan dari Jabir bin Abdillah ia berkata: Rasululloh SAW. pernah melihat suatu kaum yang berwudlu’ sedang tumit-tumit mereka belum terkena air, lalu Ia bersabda: “Celaka bagi tumit-tumit dari neraka.” (HR Ahmad).

_________________________

.

■ Hadits No. 279:

Dan dari Abdullah bin Al Harits,ia berkata: Aku pemah mendengar Rasululloh SAW. bersabda: “Celaka bagi tumit-tumit, dan dalamnya telapak-telapak kaki dari neraka.” (HR Ahmad dan Dara­quthni).

_________________________

.

■ Hadits No. 280:

Dan dari Jarir bin Hazim dari Qatadah dari Anas bin Malik, bahwa ada seorang laki-Iaki yang datang kepada Nabi SAW. ­sedang ia telah berwudlu’ dan meninggalkan punggung kakinya sebesar tempat kuku lalu Nabi SAW. bersabda kepadanya: “Ulangilah lalu baguskanlah wudlu’mu.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Daraquth­ni. Dan Daraquthni berkata: Jarir bin Hazim adalah bersendirian meriwayatkan dari Qatadah, sedang Jarir adalah kepercayaan).

_________________________

.

.

.

———-Perkataan “celaka bagi tumit-tumit dari neraka” itu, syarih . berkata: Hadits ini menunjukkan atas wajibnya membasuh dua kaki, dan begitulah pendapat Jumhur.

———- An Nawawi berkata: Ulama telah berselisih dalam berbagai penda­pat. Kemudian semua Ulama’ Fiqih dari kalangan ahli fatwa dalam beberapa masa dan di beberapa kota, berpendapat bahwa yang wajib adalah membasuh dua tapak kaki bersama dua mata kaki (tumit), dan tidak cukup hanya mengusap keduanya. Dan tidak wajib mengusap dengan membasuh. Dan tidak terdapat adanya pendapat yang berbeda dalam masalah ini, dari seorangpun, yang bisa mempengaruhi keijma’annya.

———-Syarih berkata: Dan hadits-hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh dua kaki.

.

POSTING | 78 | Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)

.


19. | Bab.Mengusap Bagian Kepala Yang Biasa Terbuka Bersama Sorban

.

■ Hadits No. 275:

Dari Mughirah bin Syu’bah, bahwa Nabi SAW. berwudlu’ lalu mengusap ubun-ubunnya dan bagian atas sorban serta dua kasutnya. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim).

_________________________________

.

———Syarih rahimahullah berkata: Hadits Mughirah ini tidak diriwayat­kan oleh Al Bukhari.

———Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: Al Mundziri salah sangka, sehing­ga ia mempertimbangkan hadits ini sebagai ‘muttafaq ‘alaih’, dan hal itu diikuti oleh Ibnul Jauzy sehingga iapun salah sangka, selanjutnya diikuti pula oleh Ibnu Abdil Hadi. Dan dijelaskan oleh Abdul Haq dalam mengkompromikan antara dua Kitab Shahih, bahwa hadits terse­but adalah di antara hadits yang diriwayatkan Muslim sendiri. Selesai. █

POSTING | 77 | Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)


18. Bab | Bolehnya Mengusap Bagian Atas Sorban

.

.

.

■ Hadits No. 268:

Dari Amr bin UmayahAdl Dlamiry, ia berkata Aku pemah melihat Rasululloh SAW. mengusap bagian atas sorbannya dan dua kasutnya (Alas Kaki). (HR Ahmad, Bukhari dan Ibnu Majah).

 ________________________________

.

■ Hadits No. 269:

Dan dari Bilal, ia berkata: Rasululloh SAW. pemah mengusap bagian atas dua kasut dan sorbannya. (HR Jama’ah kecuali Bukhari dan Abu Dawud.)

 ________________________________

.

■ Hadits No. 270:

Dan dalam satu riwayat bagi Ahmad (dikatakan): Bahwa Nabi SAW. bcrsabda: “Usaplah bagian atas dua kasut dan sorban.

________________________________

.

■ Hadits No. 271:

Dan dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Nabi SAW. berwudlu’ dan mengusap bagian atas dua kasut dan sorban. (HR Tirmidzi dan ia mengesahkannya).

________________________________

.

■ Hadits No. 272:

Dan dari Salman, bahwa ia pernah melihat seorang laki-laki telah hadas  sedang ia bermaksud melepas dua kasutnya, lalu Salman memerintahkannya agar mengusap bagian atas dua kasut dan sorbannya, dan berkata: Aku pemah melihat Rasululloh SAW. mengusap bagian atas dua kasut dan sorbannya. (HR Ahmad).

________________________________

.

■ Hadits No. 273:

Dari Tsauban, ia berkata: Aku pemah melihat Rasululloh SAW. berwudlu’ dan mengusap bagian atas dua kasut dan sorban. (HR Ahmad).

________________________________

.

■ Hadits No. 274:

Dan dari Tsauban, ia berkata: Rasululloh SAW. telah mengutus sepasukan tentara, lalu mereka ditimpa kedinginan, kemudian setelah mereka sampai ke hadapan Nabi SAW., mereka melaporkan tentang kedinginan yang menimpa mereka itu, lalu Nabi SAW. memerintahkan mereka agar mengusap bagian atas sorban-sorban dan kasut-kasut. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

.

.


—————Perkataan “al khimaar” itu, syarih berkata: Yang dimaksud di sini adalah sorban.  Ulama berselisih pendapat tentang mcngusap bagian atas sorban. Al Auza’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Tsaur, dan Dawud bin Ali berpendapat atas bolehnya. Sedang Imam Syafi’i menyatakan: Kalau hadits yang menerangkan tentang mengusap sorban itu sah dari Nabi SAW. maka begitulah pendapatku.

—————At Tirmidzi berkata: Itu, adalah tidak hanya pendapat seorang saja tapi juga dari ahli-ahli ilmu dari kalangan Sahabat, seperti Abu Bakr, Umar dan Anas, tetapi mereka berselisih tentang apakah orang yang mengusap bagian atas sorban itu disyaratkan harus suci ketika memakainya atau tidak, demikian juga mereka berselisih pendapat tentang batas waktunya.

—————-Dan Jumhur berpendapat tidak boleh membatasi hanya mengusap sorban saja. Selanjutnya syarih berkata: Walhasil, sesungguhnya telah ada ketetapan mengusap bagian atas kepala saja, dan mengusap bagian atas sorban saja, dan juga bagian atas kepala dan sorban, sedang semua itu sah lagi kuat. Selesai dengan ringkas. .█

POSTING | 76 | Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)


17. | Bab Mengusap Leher

.

.

.

■ Hadits No. 267 :

Dari Laits dari Thalhah bin Musharrif dari ayahnya dari datuknya, bahwa ia pemah melihat Rasulullah SAW.  mengusap kepala-nya sehingga, sampai tengkuk dan sekitarya dari muka leher. (HR Ahmad).

______________________________________________

.

.

—————Syarih rahimahullah berkata: Hadits ini, di dalamnya terdapat perawi yang bernama Laits_ bin Abi Sulaim, sedang ia. adalah dla’if. Ibnul Qayim berkata: Tidak satupun hadits yang sah dari dia tentang mengusap leher ini. Selesai.

.
—————Dan diriwayatkan dari Ali ra., bahwa ia pernah mengusap lehernya. Syarih berkata: Orang-orang yang berpendapat tentang sunatnya mengusap leher itu berselisih, apakah diusap dengan air sisa mengusap kepala, atau dengan air baru.█

.

.POSTING | 75 | Samina, Waatona !.

.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)


16. | Bab Mengusap Kening Dan Keduanya Termasuk Kepala

.

.

.

■ Hadits No. 266 :

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata: Aku pernah melihat Rasulullah SAW. wudlu’, lalu ia mengusap kepalanya, yaitu mengusap bagian depan dan belakang daripadanya, dan keningnya dan dua telinganya, sekali. (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan mereka mengatakan: Hadits ini Hasan.)

________________________________________

.

—————Syarih berkata: As sudghu, yaitu tempat yang terletak antara mata, telinga dan rambut yang memanjang di tempat tersebut. Dan hadits itu menunjukkan diperintahkannya mengusap kening dan telinga, bersama mengusap kepala, sedang mengusapnya adalah sekali.█

.

POSTING | 74 | Samina, Waatona !.

 ________________________________

BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)