4. Bab | Sunanul Fithrah

.

  • Catatan :
    Sunanul Fithrah adalah merupakan sunnah atau tradisi atau kebiasaan para Nabi yang kita diperintahkan untuk meneladani mereka. Jadi Sunanul Fitrah merupakan syiar, ciri, dan keistimewaan pengikut para Nabi.

.

.

■ Hadits No. 184 :

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Lima perkara dari (perintah) agama: Mencukur rambut kemaluan, khitan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku“. (HR Jama’ah).

●●●●●●●●●●

.

■ Hadits No. 185 :

Dan dari Anas bin Malik , ia berkata: Ditentukan Waktu bagi kami dalam mencukur kumis, memotong kuku , mencabut bulu ketiak , dan mencukur rambut kemaluan, yaitu kiranya tidak kami biarkan lebih dari 40 malam. (HR Muslim dan Ibnu Majah . Dan diriwayatkan juga oleh Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i dan Abu Dawud , dan mereka mengatakan: ” Rasulullah SAW. menentukan waktu bagi kami.”)

●●●●●●●●●●

.

■ Hadits No. 186 :

Dan dari Abi Zakariya bin Abi Zaidah dari Mash’ab bin Syaibah dari Thalq bin Habib dari Ibnu Zubair dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sepuluh perkara dari (perintah) agama: Mencukur kumis, membiarkan jenggot, bersiwak, mengisap air hidung, memotong kuku, mencuci buku-buku jari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan dan istinja”. Lalu Zakariya berkata: Mus`ab berkata: Dan aku lupa yang kesepuluh, akan tetapi kira-kira ‘berkumur’. (HR Ahmad, Muslim, Nasa’i dan Tirmidzi).

●●●●●●●●●●

.

..

          Syarih rahimahullah berkata: Yang dimaksud perkataan “Lima perkara dari (perintah) agama” itu, bahwa perkara-perkara ini apabila dikerjakan maka pelakunya disifati dengan ‘fithrah’ yang diciptakan oleh Alloh SWT. untuk hamba-hambanya. Dan ditekankannya kepada mereka agar mereka tetap dalam fithrah dan dianjurkan agar berpegang kepadanya supaya mereka mempunyai sifat yang sempurna dan rupa yang baik. Dan mencukur rambut kemaluan adalah sunnah menurut ijma’ Ulama’, yang caranya: dengan dicukur, digunting, dicabut, atau dengan obat.

Dan tentang khitan masih diperselisihkan tentang wajibnya, dan akan dibicarakan kemudian. Dan menggunting kumis, adalah sunnah secara ijma’, demikian juga mencabut rambut ketiak dan memotong kuku. Selesai dengan ringkas.

          Perkataan “dan memelihara jenggot” itu, syarih rahimahullah berkata: Yang dimaksud ialah membiarkannya, dan didalam satu riwayat bagi Imam Bukhari: (Nabi SAW. bersabda): “Lebatkanlah jenggot-jenggot“. Dan adalah termasuk adat orang Persi, yaitu memotong jenggot, lalu Syari’ melarang yang demikian itu dan memerintahkan memeliharanya. Qadli ‘Iyadl berkata: Dimakruhkan mencukur jenggot, memotongnya, dan membakarnya. Adapun memotong untuk mengurangi panjangnya dan lebarnya itu adalah baik. Dan dimakruhkan berlebih-lebihan di dalam mengagungkan jenggot sebagaimana dimakruhkan menggunting dan memotongnya. Dan Ulama Salaf berbeda pendapat tentang hal itu, di antara mereka ada yang tidak membatasi dengan suatu batasan, bahkan mengatakan tidak boleh dibiarkannya sampai ke batas berlebih-lebihan, dan boleh diambil sebagiannya. Dan Imam Malik memakruhkan memanjangkannya dengan panjang sekali. Dan di antara mereka ada yang membatasi dengan tidak boleh lebih dari segenggam, kemudian selebihnya harus dibuang. Dan diantara mereka ada yang memakruhkan mengambil sebagian, kecuali di waktu hajji atau umrah.

          Perkataan barajim, maksudnya ialah buku-buku jari tangan. Perkataan “dan aku lupa yang kesepuluh, kecuali kira-kira berkumur” itu, syarih berkata: Ini adalah keragu-raguan dari Mush’ab. Qadli ‘Iyadl berkata: Dan barangkali itu adalah khitan yang disebut bersama. lima perkara yang pertama. An Nawawi berkata-: Itu lebih tepat. Dan Ar Rafil menjadikan hadits ini sebagai dalil, bahwa berkumur dan mengisap air hidung adalah sunnah, dan hadis itu diriwayatkan dengan lafadz: “Sepuluh perkara daripada sunnah”. Tetapi ditolak oleh Ibnu Hajar Al Asqallani di dalarn At Talkhish, bahwa lafadz hadits itu adalah: “Sepuluh perkara dari fithrah”.
Ibnu Hajar berkata: Bahkan seandainya lafadz hadits itu berbunyi ‘dari sunnah’, tetapi tidak dijadikan dalil atas tidak wajibnya, karena yang dimaksud sunnah di situ adalah ‘jalan’ dan bukannya sunnah dengan arti ishthilahi*).█

*) Sunnah ada dua arti: 1. Sunnah Nabi; 2. lebih baik dikerjakan, kalau tidak, tidak dosa).

POSTING | 51 | Sami’na Waato’na !.

●●●●●●●●●●

About Imam Asy Syaukani

Himpunan Hadits-Hadits Hukum Lihat semua pos milik Imam Asy Syaukani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: