16. Bab | Najisnya Binatang Yang Tidak Boleh Dimakan Dagingnya Apabila Disembelih

.

Hadits No. 95:
.

Dari Salmah bin Al Akwa’, ia berkata, Sebelurn waktu sore pada hari Penaklukan Khaibar, mereka menyalakan api banyak, maka Rasulullah SAW. bertanya: “Apakah api ini, untuk apa kamu menyalakannya? “, Mereka menjawab: “Untuk daging! “, Ia bertanya: “Daging apa? ”, Mereka menjawab: “Daging himar piaraan! ”, Maka, sabdanya: “Tumpahkanlah dan pecahlah! ”, Maka seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah, adakah kami menumpahkan dan mencucinya? ”, Maka sabdanya: “Ya demikianlah! “, Dan dalam suatu lafadz: Maka sabdanya: “Cucilah! ”. (HR Bukhari, Muslim dan Nasa’i).

.

Hadits No. 96:.

Dan dari Anas, ia berkata, Kami telah mendapatkan daging himar, yakni pada hari Khaibar, lalu juru panggil Rasulullah SAW. menyeru: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kamu (makan) daging-daging himar, karena sesungguhnya ia adalah kotor atau najis”. (HR Bukhari, Muslim dan Nasa’i).

.

.

.

.
Syarih rahimahullah berkata:  Dua buah hadis ini dijadikan dalil atas haramnya himar-himar piaraan. Dan itu adalah pendapat kebanyakan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it-tabi’in.Mushannif membawakan kedua hadis tersebut adalah untuk dijadikan sebagai dasar atas najisnya daging binatang yang tidak boleh dimakan, karena
.
  1. adanya perintah memecahkan bejana-bejana,
  2. Untuk mencucinya,
  3. Sabda Nabi SAW. :“Sesungguhnya ia adalah kotor atau najis“. Itu semua menunjukkan atas najisnya

Tetapi itu semua adalah penegasan tentang himar-himar piaraan, sedang untuk binatang-binatang lain yang tidak boleh dimakan dagingnya adalah diqiaskan dengan itu karena sama-sama tidak boleh dimakan dagingnya, dan tidak wajib (mencuci) tujuh kali, karena dimutlakkan “mencuci”, dan tidak diikat seperti ikatan (mencuci) jilatan anjing.

Imam Ahmad berkata. Dalam dua riwayat yang paling masyhur daripadanya, bahwa wajib “tujuh kali”, tetapi aku tidak mengetahui dalilnya. Kalau diqiaskan kepada air liur anjing, maka sudah cukup jelas, tetapi kalau kepada yang lain, apa maksudnya itu?

Peringkas berkata: Yang dipakai dasar oleh teman-teman Imam Ahmad adalah hadist hujjah. yang disebutkan di dalam Al Mabda dan lafadznya: “Kita diperintahkan mencuci najis-najis tujuh kali. ” Dan itu adalah hadis Yang tidak dapat dipergunakan sebagai hujjah.

.
POSTING-25/Sami’na Waato’na !.

About Imam Asy Syaukani

Himpunan Hadits-Hadits Hukum Lihat semua pos milik Imam Asy Syaukani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: