15. Bab |Tentang Dimansukh-kannya Hukum Mensucikan Kulit Bangkai Dengan Disamak

.
.
Hadits No. 92:

.

Dari Abdullah bin Ukaim, ia berkata: Rasulullah SAW. telah mengirim surat kepada kami sebulan sebelum ia meninggal dunia (isinya): “Hendaklah kamu tidak memanfaatkan kulit dan tulang-tulang bangkai. HR Imam yang lima. selain Ahmad dan Abu Dawud tidak menyebutkan ‘masa’. Dan Tirmidzi. berkata: “Ini adalah haditst Hasan.

.
Hadits No. 93:


Dan bagi Dara Quthni, bahwa Rasulullah SAW. Pernah mengirim surat kepada Juhainah (sebagai berikut): “Sesungguhnya aku telah memberi keringanan kepada kamu tentang kulit-kulit bangkai, oleh karena itu manakala suratku itu telah sampai padamu, maka janganlah kamu manfaatkan kulit dan tulang bangkai.”

.

Hadits No. 94:


Dan bagi Bukhari dalam Kitab Tarikhnya, dari Abdullah bin Ukaim, ia berkata: “Orang tua-tua kami dari Juhainah menceritakan kepada kami, bahwa Nabi SAW. pernah kirim surat kepada mereka (sbb.): Hendaklah kamu tidak memanfaatkan sedikit pun daripada bangkai.

..

Syarih rahimahullah berkata:  Al Hazini berkata dalam An Nasikh wal Mansukh Adapun jalan tengahnya dikatakan (sbb.): Hadits Ibnu Ukaim itu dlahirnya menunjukkan naskh, kalau dia itu shahih; Akan tetapi hadits itu banyak idlthirab *), karena itu tidak dapat menandingi keshahihan hadits Maimunah, maka berpegang dengan hadits Ibnu Abbas adalah lebih baik karena segi-segi tarjih, sedang hadits Ibnu Ukaim dimaksudkan untuk mencegah memanfaatkan kulit bangkai sebelum disamak, dan oleh karena itu disebut “ihab” (kulit sebelum disamak), dan yang sudah disamak disebut “jild” dan bukan “ihab” , ini dikenal di kalangan ahli bahasa. Dan mengkompromikan antara dua hukum inilah cara untuk menghindari pertentangan. Selesai.

———-Mushannif berkata: Dan kebanyakan ahli ilmu (berpendapat), bahwa sejumlah hadits itu menunjukkan, bahwa menyamak itu adalah mensucikan karena keshahihan nash-nashnya, sedang hadits Ibnu Ukaim tidak dapat menandingi nash-nash itu, baik dalam keshahihan dan kekuatannya untuk menghapus hukum nash-nash tersebut. Imam Tirmidzi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Al Hasan berkata: Adalah Ahmad bin Hanbal memegangi hadits Ibnu Ukaim, karena disitu disebutkannya dua bulan sebelum wafatnya, dan Ahmad bin Hanbal berkata: Ini adalah akhir perintah Rasulullah SAW. Kemudian Ahmad bin Hanbal meninggalkan hadits ini setelah ahli-ahli hadits menganggap goncang dalam sanadnya, dimana sebagian mereka itu meriwayatkan hadits tersebut dari Abdillah bin Ukaim, dari syekh-syekh Juhainah.

*) Goncang, tidak dapat ditentukan mana yang sebenarnya.

Catatan :
Hukum yang dimansukh adalah hukum yang telah
dihapus oleh hukum yang lainnya, baik yang ada di dalam Al-Qur’an
maupun As-Sunnah

.

POSTING-24/Sami’na Waato’na !.

About Imam Asy Syaukani

Himpunan Hadits-Hadits Hukum Lihat semua pos milik Imam Asy Syaukani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: