12. Bab | Larangan Memanfaatkan Kulit Binatang Yang Tidak Boleh Dimakan Dagingnya

Rasul SAW. melarang (memanfa'atkan) kulit-kulit binatang buas. !

veber 2009 jam 18:15

Hadits No. 76:

Dari Abil Malih bin Usamah dari ayahnya, bahwa Rasul SAW. melarang (memanfa’atkan) kulit-kulit binatang buas. HR. Ahmad Abu Dawud, dan Nasa’i.

Hadits No. 77:

Dan Imam Tirmidzi menambah: “dipergunakan sebagai alas (firasy) “.

Hadits No. 78:

Dan dari Mu’awwidz bin Abi Sufyan, bahwa ia berkata kepada segolongan dari Sahabat Nabi SAW. : “Tahukah kamu bahwa Nabi SAW. Melarang kulit-kulit harimau dinaiki di atasnya? ” Mereka menjawab: “Memang benar!

Hadits No. 79:

Dan bagi Imam Ahmad (dikatakan): “ Aku minta kamu bersumpah kepada Allah SWT: Adakah Rasul SAW. pernah melarang menaiki pelana (dari kulit) harimau? “, Mereka menjawab: “Ya!”. Dan Muawiyah berkata: “Dan aku juga bersumpah “.

Hadits No. 80:

Dari Miqdam bin Ma’dikariba, bahwa ia berkata kepada Muawiyah. Aku minta kamu bersumpah kepada Allah SWT. : “Adakah kamu tahu, bahwa Rasul SAW. melarang memakai kulit-kulit binatang buas, dan menaikinya? ”, Ia menjawab: “Ya!” . HR Abu Dawud dan Nasa’i.

Hadits No. 81:

Dan dari Miqdam bin Ma’dikariba, ia berkata: “Rasul SAW. melarang sutera, emas dan alas (dari kulit) harimau.HR Ahmad dan Nasa’i.

Hadits No. 82:

Dari Abi Hurairah, dari Nabi SAW, ia bersabda: “Malaikat tidak mau menemani sekelompok orang yang membawa kulit harimau “.HR Abu Dawud.

..

.

Perkataan “shufaf” itu, menurut syarih seperti “shurad” jama’dari shuffah, yaitu “apa yang diletakkan di atas pelana“. Mushannif berkata: Nash-nash ini melarang menggunakan kulit binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya dalam keadaan kering. Dan keumuman hadis ini menghalang-halangi kesucian kulit tersebut, dengan disembelih binatangnya atau disamak kulitnya.

Tetapi syarih berpendapat, bahwa kulit-kulit tersebut dapat disucikan dengan disamak. Dan sebenarnya tidak ada keharusan antara larangan menggunakan dengan najisnya, seperti tidak ada kaitan antara penggunaan emas dan sutera dengan kenajisan keduanya, dan pendapat mushannif itu lebih (bersifat) hati-hati. █

.

POSTING-21/Sami’na Waato’na !.

About Imam Asy Syaukani

Himpunan Hadits-Hadits Hukum Lihat semua pos milik Imam Asy Syaukani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: