4. Bab | Membersihkan Tanah Yang Najis Dengan Air Yang Banyak

Hadits No. 40 :

Dari Abi Hurairah, ia berkata: “Berdirilah seorang Baduwi lalu kencing di dalam masjid, kemudian orang-orang berdiri untuk memukulnya, lalu Rasul SAW. bersabda: “Biarkanlah dia, dan tuangkanlah setimba air di atasnya, karena sesungguhnya kamu diutus untuk memudahkan dan tidak diutus untuk mempersukar. “. HR Jama’ah kecuali Muslim.


Hadits No. 41 :

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Pada waktu kami (berada) di masjid bersama Rasul SAW., tiba-tiba datanglah seorang Baduwi, lalu ia berdiri kencing di dalam masjid. Kemudian berkatalah Sahabat- sahabat Nabi SAW.: “Berhenti, berhenti! ”, Lalu Rasul SAW. bersabda: “Janganlah kamu putuskan dia, biarkanlah,” lalu mereka membiarkannya sehingga selesai kencing. Kemudian Nabi SAW. memanggilnya lalu bersabda: “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak layak untuk sedikitpun dari kencing dan juga kotoran, karena masjid adalah untuk dzikrullah Azza wa jalla, sembahyang, dan membaca Qur’an“. Atau begitulah kurang lebihnya yang disabdakan Rasul SAW. Anas berkata: “ Kemudian Rasul SAW. memerintahkan seseorang dari kaum itu, lalu dia membawa setimba air kemudian menuangkannya di atas kencing itu.” HR Ahmad, Bukhari dan Muslim.

Tetapi di dalam Bukhari tidak terdapat kata-kata “inna haadzihil masaajid“, sampai akhir perintahnya untuk membersihkan.

.

.

Syarih berkata: Hadis ini menunjukkan bahwa menuangkan air itu sudah dapat mensucikan tanah (yang terkena najis) dan tidak harus digali. Syarih berkata pula: Juga hadist ini menunjukkan apa yang disyaratkan oleh mushannif, yaitu bahwa tanah itu menjadi suci dengan dituangi air yang lebih banyak. Dan menunjukkan juga, untuk berlaku lemah lembut dalam memberi pelajaran kepada orang bodoh. Dan pula menunjukkan menyukai dalam mempermudah dan menjauhkan diri dari mempersukar. Dan juga menunjukkan untuk menghormat dan membersihkan masjid karena Nabi SAW. membenarkan para Sahabat terhadap sikap mengingkari kencingnya seorang Baduwi itu, sedang perintahnya di situ hanyalah untuk bersikap lemah lembut.

Perkataan “mah, mah” itu, syarih berkata: mah adalah isim fi’il yang mabni sukun, maknanya “ukfuf = tahanlah“, pengarang Al Mathali’ berkata: mah itu kata larangan yang asalnya “maa haadzaa‘ (apa ini), lalu dibuang (sebagian hurufnya) untuk meringankan, dan diucapkan dengan diulang dan dalam bentuk mufrad (mah mah).

Perkataan “kemudian membawa setimba air, lalu dituangkannya di atas kencing itu, ” itu, mushannif berkata: Hadis ini menunjukkan, bahwa najis di atas tanah apabila telah dilebur dengan air, maka tanah dan air tersebut adalah suci, dan itu tidak berarti suatu perkara memperbanyak najis di dalam masjid.

POSTING-13/Sami’na Waato’na !.

About Imam Asy Syaukani

Himpunan Hadits-Hadits Hukum Lihat semua pos milik Imam Asy Syaukani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: