2. Bab | Dimaafkannya Bekas-bekas Darah Haid Yang Telah Dikerik Dan Digosok

Hadits No. 35 :

Dari Asma’ binti Abi Bakr, ia berkata: Datanglah seorang perempuan kepada Nabi SAW., lalu ia bertanya: “Salah seorang di antara kami, pakaiannya terkena darah haid, apa yang harus ia lakukan? ”, Lalu Nabi SAW. menjawab: “la harus mengeriknya, lalu menggosoknya, dengan air, kemudian mencucinya, lalu sembahyang dengan kain itu“. HR Ahmad, Bukhari dan Muslim.

Hadits No. 36 :

Dan dari Abi Hurairah, bahwa Khaulah binti Yasar bertanya: “Ya Rasulullah, aku hanya mempunyai satu pakaian dan aku haid dengan pakaian itu (bagaimana aku harus berbuat)? , Nabi SAW. menjawab: Apabila engkau telah suci, maka cucilah tempat darah itu lalu sembahyanglah dengannya“. Khaulah bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana kalau bekasnya tidak dapat hilang? Nabi SAW. menjawab: “Cukuplah bagimu air, dan tidak apa-apa bekasnya .“. HR Ahmad dan Abu Dawud.

Hadits No. 37 :

Dan dari Muladzah, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang wanita yang haid, yang pakaiannya terkena darah”, lalu ia menjawab: “ia harus mencucinya, dan kalau tidak dapat hilang bekasnya, maka rubahlah dengan sesuatu dari warna kuning. Aisyah berkata: “Akupun pernah berhaid di tempat Rasul SAW. 3 (tiga) kali, yang semuanya itu pakaianku tidak saya cuci”.


.

.

Perkataan “kemudian ia menggosoknya” itu, syarih berkata: Yakni menggosok tempat darah dengan ujung-ujung jari agar bersih, dan hilanglah apa yang melekat pada pakaian itu.

Mushannif berkata: Hadis ini menunjukkan:

  1. Bahwa darah haid tidak dima’afkan meskipun sedikit, karena keumumannya
  2. Kesucian pakaian adalah syarat bagi sembahyang,
  3. Sesungguhnya najis darah haid dan sebangsanya, mencucinya tidak diperlukan tanah dan jumlah kali cucian,
  4. Sesungguhnya air itu menentukan bagi hilangnya najis.

Perkataan “Cukuplah bagimu air dan tidak apa-apa bekasnya” itu, syarih berkata: Hadits ini dijadikan dalil bagi tidak wajibnya menggunakan alat yang tajam. Dan Syafi’i berpendapat atas wajibnya menggunakan alat yang tajam yang biasa, karena perkataannya dalam hadis Ummu Qais (dikatakan): “keriklah dengan tulang dan cucilah dengan air dan “bidara. Dan ada yang berpendapat, bahwa menggunakan alat yang tajam adalah sunat dengan mengkompromikan antara beberapa dalil tersebut.

Dan perkat aan “tidak apa-apa bekasnya” itu, menunjukkan, bahwa tetapnya bekas najis yang sukar dihilangkan itu adalah tidak apa-apa, tetapi harus diubah dengan za’faran atau sebangsa kuning-kuning atau lainnya sehingga hilanglah warna darah, karena darah adalah menjijikkan. Selesai dengan diringkas.

Perkataan Aisyah; “Aku tidak pernah mencuci pakaian” itu, syarih berkata: Ini menunjukkan, bahwa sesungguhnya yang asal adalah suci, oleh karena itu tetap atas kesuciannya, sampai nampak ada padanya najis, sehingga wajib mencucinya.

.

POSTING-11/Sami’na Waato’na !.

About Imam Asy Syaukani

Himpunan Hadits-Hadits Hukum Lihat semua pos milik Imam Asy Syaukani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: