6. Bab | Hukum Air Ketika Kejatuhan Najis

Hadits No. 22 :

Dari Dari Abi Sa’id Al khudri, ia berkata : (Rasul SAW.) ditanya : “ Rasululloh, apakah engkau pernah berwudlu’ dari (air) sumur Budla’ah, yaitu sumur tempat membuang darah-darah haid, daging-daging anjing, dan bangkai? Lalu Rasul SAW. Menjawab : “Air itu suci tidak dinajiskan oleh sesuatu”. HR Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi berkata : Hadis ini Hasan, dan Ahmad berkata : Hadis sumur Budla’ah Shahih.

Hadits No. 23 :

Dan di dalam satu riwayat bagi Ahmad dan Abi Dawud (dikatakan): Apakah engkau pernah diberi air dari sumur Budla’ah, yaitu sumur yang ditempati membuang darah-darah haid wanita, daging anjing-anjing, dan kotoran manusia? Lalu Rasul SAW. Menjawab: “Sesungguhnya air itu suci, tidak dapat dinajiskan oleh apapun”.

Abu Dawud berkata : Aku mendengar Quthaibah bin Sa’id, ia berkata: Aku pernah menanyakan bangunan sumur Budla’ah tentang dalamnya, aku bertanya : Apakah air sumur itu banyak ? Lalu ia menjawab : setinggi pantat. Aku bertanya: Kalau berkurang sampai dimana ? Ia menjawab : Di bawah aurat. Abu Dawud berkata: Aku pernah mengukur sumur Budla’ah dengan selendangku, kemudian aku rentangkan diatasnya, lalu aku ukur dengan dzira’ku, maka lebarnya enam dzira’. Dan aku bertanya kepada orang yang membukakan pintu kebun dan memasukkan aku kedalamnya: Apakah pernah diubah bangunannya dari keadaan asalnya? Lalu ia menjawab : Tidak Dan aku mengetahui di dalamnya, air yang berubah warnanya.

Hadits No. 24 :

Dari Abdillah bin Umar bin Khatthab, ia berkata: Aku mendengar Rasul SAW. Bersabda; dikala ia sedang ditanya tentang air dipadang Sahara dan berulang-ulangnya (datang) disitu, binatang-binatang buas dan hewan-hewan: “Kalau air itu dua qullah, maka tidak mengandung kotoran”. HR Imam yang lima.

Hadits No. 25 :

Dan dalam lafadz Ibnu Majah, dan satu riwayat bagi Ahmad (dikatakan): “Tidak dapat dinajiskan oleh apapun”.

Hadits No. 26 :

Dari Abi hurairah, bahwa Nabi SAW. Bersabda: “ Janganlah salah seorang dinatara kamu kencing didalam air berhenti yang tidak mengalir, kemudian mandi didalamnya”. HR Jama’ah dan ini adalah lafadz Bukhari, dan lafadz Tirmidzi (dikatakan): “Kemudian ia wudlu’ daripadanya”. Sedangkan Imam-imam yang lain (dikatakan): “Lalu ia mandi daripadanya”.


Sabda Nabi SAW. “Air itu suci, tidak dinajiskan oleh apapun” itu, Ibnul Mundzi berkata: Ulama telah sepakat, bahwa air sedikit atau banyak, apabila kejatuhan najis lalu berubah rasanya, warnanya, atau baunya, maka menjadi Najis.
Syarih berkata: Hadist ini menunjukkan, bahwa air itu tidak menjadi najis sebab kejatuhan sesuatu, baik air itu sedikit atau banyak, meskipun berubah semua sifatnya atau sebagian. Tetapi berdasarkan Ijma’ Ulama, bahwa air apabila telah berubah semua sifatnya sebab kejatuhan najis, maka hilanglah fungsinya sebagai pencuci. Oleh karena itu air tidak najis sebab sesuatu yang mengenainya, meskipun air itu sedikit, kecuali kalau berubah. Kalau air yang kurang dari 2 qullah itu berubah sebab terkena najis, maka hilanglah fungsinya sebagai pencuci dengan ijma’ dan dengan mafhum hadist qullatain mafhumnya menunjukkan hilangnya fungsi sebgai pencuci. Selesai dengan ringkas.

Sabda Nabi SAW. “Janganlah salah seorang kamu kencing di air diam yang tidak mengalir kemudian ia mandi didalamnya “ itu, Al Qurthubi berkata: Ini adalah peringatan Nabi SAW. Terhadap kembali kepada suatu perbuatan yang tidak baik, seperti sabda Nabi SAW. : “Janganlah salah seorang diantara kamu memukul isterinya seperti memukul hamba, kemudian ia mengumpulinya. Mushannif Rahimahulloh berkata: “Siapa yang menggunakan Hadist dua qullah lalu hadist ini diartikan untuk air yang kurang dari dua qullah, sedang hadist sumur Budla’ah itu untk yang mencapai dua qullah, ini dengan mengkompromikan antara semua hadist” .

Aku berkata: Kencing didalam air, dapat menajiskannya, apabila air itu sedikit, dan mengotorinya, apabila air itu banyak. Oleh karena itu, maka dilarang kencing didalam air secara mutlak.

POSTING-7/Sami’na Waato’na !.

About Imam Asy Syaukani

Himpunan Hadits-Hadits Hukum Lihat semua pos milik Imam Asy Syaukani

2 responses to “6. Bab | Hukum Air Ketika Kejatuhan Najis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: