2. Bab | Kesucian air yang dipakai Untuk Wudlu’

.
Hadist No. 5 :

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata : “ Datanglah Rasul SAW. Mengunjungi aku, sedangkan aku dalam keadaan sakit yang tidak sadar, kemudian ia berwudlu’ dan mengguyurkan air wudlu’nya kepadaku”. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim).

.

Hadist No. 6 :

Dan didalam hadist perdamaian Hudaibiyah dari riwayat Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al Hakam : Tidaklah Rasul SAW. Mengeluarkan dahak kecuali mesti jatuh ke telapak tangan seseorang, kemudian menggosokkannya ke wajahnya dan kulitnya, dan apabila wudlu’, hampir mereka berebutan air wudlu’nya. Dan kelanjutan hadist ini selengkapnya, adalah pada riwayat Ahmad dan Bukhari.

.

Hadist No. 7 :

Dan dari Hudzaifah bin Al Yaman, bahwa Rasul SAW. Pernah menemuinya, sedangkan ia dalam keadaan junub, lalu ia menyingkir daripadanya, kemudian ia mandi lalu datang, ia berkata: aku junub, lalu Nabi SAW. Bersabda : “Sesungguhnya orang Islam itu tidak najis..”. (HR Jama’ah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

.

Hadist No. 8 :

Dan Jama’ah juga meriwayatkan seperti hadist di atas seluruhnya, dari hadis Abi Hurairah.

.

Penjelasan

Syarih Rahimahullah berkata : Jumhur menjadikan dalil dengan pengguyuran Nabi SAW. Akan air wudlu’nya kepada sahabat-sahabat yang tabarruk dengan air bekas wudlu’nya, atas kesucian air bekas dipakai untuk wudlu’, selanjutnya ia berkata: Apabila Ada yang berpendapat atas najisnya air bekas wudlu’ padahal hadist-hadist ini jelas menunjukkan sucinya, dan dimungkinkan hal itu termasuk perkara yang khusus bagi Nabi SAW., maka aku menjawab : Ini adalah dakwaan yang tidak sesuai, karena yang asal, bahwa hukumnya dan hukum ummatnya adalah satu, kecuali kalau ada dalil yang menunjukkan kekhususan, padahal dalil itu tidak ada. Dan juga menghukum sesuatu itu najis adalah merupakan ketentuan hukum agama yang membutuhkan kepada dalil yang diajukan oleh orang yang menantang, maka manakah dalil itu?

Perkataan : “Sesungguhnya orang Islam itu tidak najis”, itu syarih berkata: sebagian ahli dlohir berpegangan kepada mahfumnya, dan pengarang Al Bahr menceritakannya dari Al Hadi, Al Qasim, An Nashir, dan Malik, lalu mereka berkata : “Sesungguhnya orang kafir itu najis ‘aini”, dan mereka memperkuat pendapat mereka seperti itu dengan firman Alloh : Innamal musyrikuuna najasun – At Taubat : 29, artinya “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”. Dan yang demikian itu dijawab oleh jumhur, bahwa yang dimaksud dari hadist itu, bahwa orang Islam itu suci anggota badannya karena kebiasaannya menjauhi najis.

Dan tentang ayat itu, yang dimaksud, bahwa mereka itu adalah najis di dalam I’tiqad dan dianggap kotor, dan hujjah mereka atas sahnya penafsiran ini, bahwa Alloh menghalalkan wanita-wanita ahli kitab, dan kiranya maklum, bahwa keringat mereka tidak dapat dihindari oleh siapa yang mencampurinya, selanjutnya ia berkata : dan hadis bab ini merupakan pokok dalam hal sucinya Muslim, baik dalam keadaan hidup maupun mati, dan juga mengandung faidah, diperintahkan thaharah ketika menghadapi perkara-perkara besar, seperti menghormat orang-orang mulia serta mempergaulinya dengan kesempurnaan sikap.█

POSTING-2/Sami’na Waato’na !.

About Imam Asy Syaukani

Himpunan Hadits-Hadits Hukum Lihat semua pos milik Imam Asy Syaukani

2 responses to “2. Bab | Kesucian air yang dipakai Untuk Wudlu’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: