10. Bab | Wajib Istinja’ Dengan Batu Atau Dengan Air

.

.

.


■ Hadits No. 147 :

Dari Aisyah, bahwa Nabi SAW. Bersabda : “Apabila salah seorang di antara kamu pergi buang air besar, maka bersucilah dengan tiga buah batu, karena sesungguhnya ia itu telah mencukupinya“. (HR Ahmad, Nasa’i, Abu Dawud, dan Dara Quthni, dan Dara Quthni berkata: Sanad hadis ini Shahih-Hasan)

.

■ Hadits No. 148 :

Dan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW. pernah meliwati dua kubur, lalu ia bersabda : “Sesungguhnya mereka berdua itu disiksa, dan mereka itu tidak disiksa karena dosa besar. Adapun yang seorang dari mereka, karena tidak bertabir diwaktu buang air kecil, dan yang seorang lagi dari mereka, suka mengadu-domba (sesama manusia). ” (HR Jama’ah)

.

■ Hadits No. 149 :

Dan di dalam satu riwayat bagi Bukhari dan Nasa’i (dikatakan): “Dan mereka berdua itu tidak disiksa dalam dosa besar, kemudian Nabi SAW. bersabda : “Ya, adalah salah seorang dari mereka. ” Kemudian meneruskan hadits tersebut.

.

■ Hadits No. 150 :

Dan dari Anas, dari Nabi SAW. (bersabda) : ” Jagalah dirimu dari buang air kecil, karena sebagian besar siksa kubur itu disebabkan karena buang air kecil “ (HR Dara Quthni)

.

Penjelasan


———-Perkataan “Maka sesungguhnya ia telah mencukupinya” itu, syarih berkata: Hadis ini
menjadi dalil bagi orang yang berpendapat, bahwa istinja’*) itu cukup dengan batu-batu, dah tidak wajibnya istinja’ dengan air.

———-Perkataan “Dan tidaklah mereka berdua disiksa karena dosa besar“, kemudian ia bersabda: “Ya“, yakni “sesungguhnya ia itu perkara besar“, yakni bukan perkara besar dalam kesukaran penjagaannya, tapi dianggap besar karena bisa mendatangkan siksa.

———-Perkataan “Jagalah dirimu dari kencing, karena sesungguhhya kebanyakan siksa kubur itu disebabkan karena buang air kecil” itu, syarih berkata: Hadis ini menunjukkan wajibnya menjaga diri dari buang air kecil secara mutlak tanpa dibatas adanya (keperluan untuk) sembahyang.

.

POSTING | 40 | Sami’na Waato’na !.
Media untuk bersuci dari buang hajat di dalam syariat Islam tidak terbatas hanya pada air saja. Selain air, juga dikenal benda-benda lain yang sah untuk digunakan untuk bersuci.
Di dalam fiqih, dikenal 2 teknik bersuci dari buang hajat, yaitu istinja’ dan istijmar.

  1. Istinja` : bermakna menghilangkan najis dengan air. Atau menguranginya dengan semacam batu. Atau bisa dikatakan sebagai penggunaan air atau batu. Atau menghilangkan najis yang keluar dari qubul (kemaluan) dan dubur (pantat).
  2. Istijmar : adalah menghilangkan sisa buang air besar dengan menggunakan batu atau benda-benda yang semisalnya.

Menghilangkan Najis (istijmar) dengan Batu

Jika menggunakan batu, diwajibkan menyapu dengan sekurang-kurangnya tiga biji batu atau tiga penjuru dari sebiji batu dengan syarat:

  1. Najis yang hendak dibersihkan itu tidak kering.
  2. Tidak merebak ke bagian lain.
  3. Tidak bercampur dengan najis yang lain.

Sekiranya tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, maka hendaklah menggunakan air.

Menghilangkan Najis (istijmar) dengan Selain Batu

Selain dengan batu, istijmar bisa dengan menggunakan benda apa saja, yang penting sesuai dengan ketentuan.

  • Benda itu bisa untuk membersihkan bekas najis.
  • Benda itu tidak kasar seperti batu bata dan juga tidak licin seperti batu akik, karena tujuannya agar bisa menghilangkan najis.
  • Benda itu bukan sesuatu yang bernilai atau terhormat seperti emas, perak atau permata. Juga termasuk tidak boleh menggunakan sutera atau bahan pakaian tertentu, karena tindakan itu merupakan pemborosan.
  • Benda itu bukan sesuatu yang bisa mengotori seperti arang, abu, debu atau pasir.
  • Benda itu tidak melukai manusia seperti potongan kaca beling, kawat, logam yang tajam, paku.
  • Jumhur ulama mensyaratkan harus benda yang padat bukan benda cair. Namun ulama Al-Hanafiyah membolehkan dengan benda cair lainnya selain air seperti air mawar atau cuka.
  • Benda itu harus suci, sehingga beristijmar dengan menggunakan tahi/ kotoran binatang tidak diperkenankan. Tidak boleh juga menggunakan tulang, makanan atau roti, kerena merupakan penghinaan.

Bila mengacu kepada ketentuan para ulama, maka kertas tissue termasuk yang bisa digunakan untuk istijmar. Para ulama mengatakan bahwa sebaiknya selain batu atau benda yang memenuhi kriteria, gunakan juga air. Agar istinja` itu menjadi sempurna dan bersih.

.

Adab Buang Hajat

  • Dilarang membawa sesuatu yang terdapat nama Allah.
  • Menjauh dan mencari tempat yang tidak terlihat oleh manusia.
  • Masuk WC/tempat buang hajat dengan kaki kiri.
  • Sebelum masuk ke WC, membaca doa berikut : “Bismillah, Allahumma innî ‘audzu bika minal khubutsi wal khoba itsi.” (Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan). Kalau seseorang membuang air di selain bangunan (misalnya di hutan atau padang pasir), maka doa ini dibaca ketika awal kali dia membuka auratnya.
  • Haram menghadap ke arah qiblat atau membelakanginya apabila membuang air di kawasan lapang. Walau bagaimanapun, disunatkan juga tidak menghadap atau membelakangi qiblat apabila membuang air di dalam bangunan seperti tandas atau apabila ada dinding atau tabir antara orang itu dengan qiblat.
  • Dimakruhkan berbicara dengan pembicaraan apapun.
  • Diwajibkan untuk menjaga aurat ketika buang air, jangan sampai auratnya terlihat oleh orang lain, selain istri dan budaknya.
  • Diwajibkan untuk menjaga tubuh dan pakaian dari najis ketika buang air.
  • Bertumpu pada kaki kiri ketika duduk/jongkok dalam buang hajat
  • Diharamkan memegang kemaluan (qubul dan dubur) dengan tangan kanan saat buang air.
  • Disunnahkan menggosokkan tangan kiri ke tanah atau mencucinya dengan sabun setelah melakukan istinja`.
  • Dimakruhkan berdiam terlalu lama di dalam WC setelah selesainya hajat. Hal itu karena WC merupakan tempat hadirnya setan-setan dan itu merupakan perbuatan membuka aurat tanpa ada keperluan.
  • Ketika keluar dari WC mendahulukan kaki kanan dan membaca doa: “Ghufranaka, alhamdulillah al-ladzi adh-haba ‘anni al-adza wa ‘âfâni.”. (Aku minta ampunan-Mu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan menyelamatkanku)

Tempat-tempat yang Dilarang untuk Buang Air Besar/Kecil:

Pada dasarnya semua tempat yang kalau seseorang buang air di situ akan mengganggu orang lain terlebih itu kaum muslimin, atau mengganggu makhluk Allah lainnya, maka buang air di situ tidak boleh. Maka dilarang buang air di jalan, tempat berteduh, di bawah pokok buah-buahan baik ketika berbuah atau tidak, tempat berkumpulnya air, di air yang diam dan tidak mengalir, tempat/kolam mandi, di lobang atau celah rekahan tanah dan di bejana, kecuali kalau ada uzur seperti sakit dan selainnya. █

About Yoyo Suryo Sugiharto K


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: