4. Bab | Wudlu’ Sebab Menyentuh Perempuan

.

.

Firman Alloh SWT.:

Artinya: “Atau kamu menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak menemukan air, maka hendaklah kamu tayammum.”
Kata laamastum dapat dibaca lamastum.

₪₪₪₪₪

..

■ Hadits No. 323 :

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW., lalu ia berkata: Ya Rasululloh, apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang bertemu seorang perempuan yang ia kenalnya, kemudian si laki-laki tersebut tidak hanya mendatanginya saja  melainkan ia juga mendatangi perempuan itu hanya saja ia tidak menyetubuhinya? Mu’adz berkata: Maka Alloh menurunkan ayat ini (wa aqimis shalaata tharafayin mahaari wa zulafam minallailiHud, 115). Artinya: “Dan dirikanlah sholat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.” Lalu Nabi SAW. bersabda: Berwudlulah dan sholatlah.” (HR Ahmad dan Dara Quthni)

₪₪₪₪₪

.

■ Hadits No. 324 :

Dan. dari Ibrahim At Taimi, dari Aisyah, bahwa Nabi SAW. pemah mencium salah seorang isterinya, kemudian ia terus mengerjakan sholatdan tidak berwudlu’ (lagi). (HR Abu dawud dan Nasa’i. Abu Dawud berkata: Hadits ini Mursal, sebab Ibrahim At Taimi tidak mendengar sendiri dan Aisyah ra. Dan Nasa’i berkata: Di dalam bab ini tidak ada yang sebaik hadits ini, meskipun Mursal).

₪₪₪₪₪

.

■ Hadits No. 325 :

Dan dari Aisyah, ia berkata: Kalau Rasululloh SAW. sedang sholat, sedangkan aku tidur melintang di hadapannya sebagaimana melintangnya janazah, sehingga apabila Ia bermaksud sholat witir, maka ia menyentuhku dengan kakinya. (HR Nasa’i).

₪₪₪₪₪

.

■ Hadits No. 326 :

Dan dari Aisyah, ia berkata: Pada suatu malam aku kehilangan Rasululloh SAW. dari tempat tidumya, kemudian aku mencarinya, lalu kuletakkan tanganku pada dalam telapàk kakinya, sedang Ia berada di masjid, sedang kedua telapak kakinya berdiri tegak, sambil berdo’a: “Allohumma innie a-’uudzu biradlaaka min sakhatika wa bi mu’aafaatika min ‘uquubatika, wa a’uudzu bika minka, laa uhshie tsanaa-an ‘alaika, anta kamaa atsnaika ‘alaa nafsika”. Artinya: Ya Alloh, aku berlindung dengan ridlo-Mu, dari kemunkaran-Mu, dan dengan kema’afan-Mu dan siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dan adzab-Mu, aku tidak dapat menjumlah pujian atas-Mu, sebagaimana Engkau pujikan pada diri-Mu. (HR Muslim dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengesahkannya).

₪₪₪₪₪

.

.

—————Syarih berkata: Ayat tersebut dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat, bahwa menyentuh perempuan adalah membatalkan wudlu’.
Syarih berkata: Sedang hadits Aisyah menunjukkan, bahwa menyentuh perempuan tidak membatalkan wudlu’. Mushannif berkata: Dan pendapat yang paling moderat yang mengkompromikan di antara hadits-hadits tersebut, adalah pendapat yang menyatakan, bahwa menyentuh perempuan tidak membatalkan wudlu’, kecuali kalau dengan bersyahwat.
Dan dari Ibnu Abbas tentang firman Alloh SWT.aw laamastumun nisaa-a’, Ibnu Abbas berkata: yang dimaksud adalah jima’(Bersetubuh), tetapi Alloh adalah Dzat yang Maha Mulia, sehingga Ia menggunakan kata sindiran (Kinayah).

—————Dan Ibrahim berkata: Menyentuh perempuan dengan syahwat membatalkan wudlu’. Al Muwaffaq berkata: Dan menyentuh yang membatalkan itu, tidak dikhususkan dengan tangan, bahkan dengan apa saja yang menyentuh kulit perempuan, dengan syahwat, maka membatalkan wudlu’ karena sentuhan itu.

(Berdasar hadits Aisyah, karena menyentuh dengan syahwat dipandang membatalkan wudlu’ itu semata-mata pendapat, maka kami berpendirian, bahwa menyentuh perempuan itu tidak membatalkan wudlu’, baik dengan syahwat maupun tidak). ۞

.

POSTING |93| Samina, Waatona !.

.

.


3. | Bab. Wudlu’ Karena Tidur Sebentar, Dalam Salah Satu keadaan Sholat

.

.

■ Hadits No. 317 :

Dari Shafwan bin Assal, ia berkata: Rasululloh SAW. pernah memerintahkan kami, apabila kami dalam bepergian, hendaknya kami tidak melepaskan Alas kaki kami selama tiga hari tiga malam, kecuali karena junub.  Kecuali (hendaknya tidak perlu melepaskan) karena buang air besar, kencing dan tidur.” (HR Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi dan Tirmidzi mengesahkannya).

₪₪₪₪₪

.

■ Hadits No. 318 :

Dan dari Ali ra., ia berkata: Rasululloh SAW. bersabda: “Mata itu tutup dubur (anus), maka barangsiapa telah tidur, hendaklah wudlu’.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

₪₪₪₪₪

.

■ Hadits No. 319 :

Dan dari Mu’awwidz ra., ia berkata: Rasululloh SAW. berrn sabda: “Mata itu tutup dubur, maka apabila dua mata telah tidur, maka terbukalah tutup itu.” (HR Ahmad dan Dara Quthni).

₪₪₪₪₪

.

As sah adalah nama bagi lingkaran dubur. Dan Ahmad ditanya tentang hadits Mu’awiyah dan Ali ra. dalam hal ini, maka ia menjawab: Hadits Ali lebih sah dan lebih kuat.

₪₪₪₪₪

.

■ Hadits No. 320 :

Dan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah, lalu Rasululloh SAW. berdiri (sembahyang), maka aku pun berdiri di sebelah kirinya, lalu ia memegang tanganku, kemudian memindahkan aku di sebelah kanannya, maka apabila aku mengantuk ia memegang daun telingaku. Ibnu Abbas berkata: Nabi SAW. lalu sholat sebelas raka’at. (HR Muslim).

₪₪₪₪₪

.

■ Hadits No. 321 :

Dan dari Anas, ia berkata: Adalah Sahabat-sahabat Rasululloh SAW. biasa menunggu isya’ yang akhir, sehingga kepala-kepala mereka menunduk, kemudian mereka sholat dan tidak berwudlu’. (HR Abu Dawud).

₪₪₪₪₪

.

■ Hadits No. 322 :


Dan dari Yazid bin Abdurrahman dan Qatadah dan Abil Aliyah dan Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW. bersabda: “Tidak ada wudlu’ bagi orang yang tidur dengan sujud, sampai ia tidur miring, karena apabila ia tidur miring lemaslah sendi-sendinya.”  Yazid di sini adalah Ad Dalani, Ahmad berkata: Dia tidak mengapa (yakni bukan orang cacat).

Syarih berkata: Tetapi sebagian Muhaddis (ahli hadits)
mendla’ifkan hadits Ad Dalani  ini, karena keMursal.*)annya. Syu’bah berkata: Sebenarnya Qatadah mendengar dari Abil Aliyah, empat buah hadits, lalu ia menyebut semuanya, dan hadits ini tidak termasuk di antaranya.

*) Klik Untuk penjelasan lebih lanjutnya …

₪₪₪₪₪

.

—————Perkataan “tetapi juga karena buang air besar, kencing dan tidur” itu, syarih berkata: ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa tidur membatalkan (wudlu’). Dan Ulama’ telah berselisih pendapat tentang itu atas 8 madzhab. Pada akhirnya ia berkata: Madzhab yang ke-8 yaitu, bahwa apabila seseorang tidur dengan duduk yang pantatnya melekat di bumi, maka wudlu’nya tidak batal, baik sebentar maupun lama, baik ia didalam sembahyang maupun diluarnya.

—————Imam Nawawi berkata: ini menurut madzhab Syafi’i, dan bagi Syafi’i, bahwa tidur itu sendiri bukanlah suatu hadas, tetapi sebenarnya ia menjadi pertanda atas keluarnya angin, dan dari perkataan ini adalah hadits Ibnu Abbas dan Mu’awiyah, hal ini menurutnya adalah pendapat yang lebih dekat kebenarannya, dan dengan ini dikompromikan antara dalil-dalil tersebut: Selanjutnya Syarih berkata: Walhasil, bahwa hadits-hadits yang memutlakkan tidur, dibawa kepada arti muqayyad, (Secara bahasa, kata muqayyad berarti terikat) khusus tidur berbaring. (Tetapi dalam hadits-hadits lain disebutkan, bahwa orang yang mengantuk tidak boleh mengerjakan sholat).

FAEDAH : Imam Nawawi berkata: Dan Ulama’ sepakat, bahwa hilangnya kesadaran sebab gila, pingsan, mabuk, sebab khamr atau  nabidz atau bius atau obat, adalah membatalkan wudlu’, baik sebentar atau lama, baik menetapkan pantatnya atau tidak.  Perkataan “mata itu tutup dubur” itu, syarih berkata: As sah dibaca as sah maknanya adalah dubur. Dan dua buah hadits itu menunjukkan bahwa tidur itu menyebabkan batalnya wudlu’, tetapi bukan  tidurnya yang membatalkannya.

—————Perkataan “tidak ada wudlu’ bagi orang yang tidur di waktu sujud, sampai ia berbaring” itu, syarih berkata: Hadits ini menunjukkan, bahwa tidur tidak membatalkan wudlu’ kecuali dalam keadaan berbaring. Dan pembicaraan tentang ini telah terdahulu,  dan itulah yang kuat. (Kami berpendapat, bahwa tidur dalam keadaan bagaimana pun tidak membatalkan wudlu’ )

.

.

POSTING |92| Samina, Waatona !.

.

______________________________

.


2. | Bab. Wudlu’ Sebab Najis Yang Keluar Bukan Dari Qubul Dan Dubur

.

.

■ Hadits No. 314 :

Dan Ma’dan bin Abi Thalhah dan Abi Darda’, bahwa Nabi SAW. telah muntah, lalu ia berwudlu’, kemudian aku bertemu Tsaubah di masjid Damaskus lalu aku sebutkan hal itu padanya, maka katanya: Benar, sayalah yang menuangkan air wudlu’nya. (HR Ahmad, dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengatakan: Hadits mi adalah hadits yang paling shahih dalam bab ini.

۩۩۩۩۩

.

■ Hadits No. 315 :

Dan dari Ismail bin Ayyas dan Ibnu Juarij dan Ibnu Abi Mulaikah dan Aisyah, ia berkata: Rasululloh SAW. bersabda: “Barangsiapa muntah atau keluar darah dari hidung (mimisan), atau bersendawa yang mengeluarkan isi perut, atau keluar madzi, maka batalkanlah (sembahyangnya), lalu wudlu’lah, kemudian teruskanlah sembahyangnya, selama ia tidak berbicara.” (HR Ibnu Majah, dan Dara Quthni, dan Dara Quthni mengatakan: Para hafidz dan Sahabat Ibnu Juraij meriwayatkan hadits ini dan Ibnu Juraij dari ayahnya dari Nabi SAW. dengan Mursal.*)

*) Klik Untuk penjelasan lebih lanjutnya …

۩۩۩۩۩

.

■ Hadits No. 316 :

Dan dari Anas, ia berkata: Rasululloh SAW. pernah berbekam, lalu Ia sembahyang dan tidak berwudlu’, dan ia tidak menambah mencuci bekas bekamannya. (HR Dara Quthni).

۩۩۩۩۩

.

—————Syarih berkata: Hadits ini dijadikan dalil, bahwa muntah adalah termasuk perkara yang membatalkan wudlu’. Perkataan “barang siapa muntah atau keluar darah dari hidung atau bersendawa yang mengeluarkan isi perut” itu, syarih berkata: Perkataan qalas bisa dibaca qalasun dan bisa dibaca qalsun. Menurut Al Khalil qalas yaitu sesuatu yang keluar dari kerongkongan yang memenuhi mulut atau kurang dan itu dan tidak muntah, dan kalau sampai keluar dan mulut maka itu muntah.

—————Dan di dalam Kitab An Nihayah disebutkan: qalas yaitu apa yang keluar dan dalam perut, kemudian pengarang An Nihayah menyebutkan seperti perkataan Al Khalil di atas. Dan hadits ini menunjukkan bahwa muntah, mimisan, bersendawa (mengeluarkan sesuatu) dan keluar madzi adalah membatalkan wudlu’. Syarih berkata: Tetapi hadits Anas menunjukkan bahwa keluarnya darah tidak membatalkan wudlu’.

—————Mushannif rahimahullah berkata: Dan telah sah dari segolongan Sahabat, mereka tidak berwudlu’ karena mengeluarkan darah yang sedikit, dan hadits Anas itu dimasukkan di sini. Sedang hadits sebelumnya yang dimaksudkan adalah darah yang banyak lagi kotor seperti mahdzhab Ahmad dan orang yang setuju dengannya, dengan jalan jam’ (kompromi) antara keduanya.

—————Pcrkataan “maka batalkanlah sembahyangnya, lalu wudlu’lah” kemudian teruskanlah sembahyangnya selama ia tidak berbicara” itu, dijadikan dalil, bahwa hadas tidak membatalkan sembahyang. Dan yang sahih, hadas membatalkan sembahyang karen ada hadits Thalq bin Au yang diriwayatkan oleh Imam yang lima, Thalq berkata:  “Rasululloh SAW. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu mengeiuarkan angin di waktu sembahyang, maka batalkanlah dan wudlu’lah dan ulangilah sembahyang.”

.

.

POSTING |91| Samina, Waatona !.

.

______________________________

.


1. | Bab. Wajib Wudlu’ Karena Mengeluarkan Sesuatu Dari dalam Qubul Dan Dubur

.

■ Hadits No. 312 :

Dan Abi Hurairah, ia berkata: Rasululloh SAW. bersabda: “Alloh tidak menerima sholat salah seorang di antara kamu apabila ia berhadas, sehingga ia berwudlu’.” Lalu ada seorang laki-laki dari Hadlar Maut bertanya: Apakah hadas itu, wahai Abu Hurairah? Ia menjawab: angin atau kentut. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim).

۩۩۩۩۩

.

■ Hadits No. 313 :

Dan di dalam hadits Shafwan tentang mengusap alas kaki (dikatakan): “Tetapi karena buang air besar, kencing dan tidur.”

۩۩۩۩۩

.

———-Syarih rahimahullah berkata: Yang dimaksud dengan hadas yaitu: “apa yang keluar dari salah satu dua jalan.” Abu Hurairah menafsirkan yang tersebut itu dengan yang lebih khusus, adalah untuk memperingatkan, yang lebih ringan untuk yang lebih besar. (Maksudnya, kalaulah kentut sudah batal, maka apalagi yang lebih dari itu). Dan karena angin dan (kentut)  itu lebih sering terjadi diwaktu sholat dibanding yang lain.

———-Hadits ini dipakai dasar bahwa wudlu’ tidak wajib untuk setiap memulai sholat (setelahnya) dan menunjukkan, batalnya sholat karena terjadinya hadas. Selesai dengan ringkas.

.

.

POSTING |90| Samina, Waatona !.

.

 ______________________________

.


5. | Bab. Mengusap Itu khusus Dibagian atas Alas Kaki

.

.

.

■ Hadits No. 309 :

Dari Ali ra. ia berkata: Kalau seandainya agama itu (ditentukan) dengan Ra-yu *), tentu bagian bawah alas kaki itu lebih patut untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan aku sungguh mengetahui Rasululloh SAW. telah mengusap bagian atas punggung dua alas kakinya.(HR Abu Dawud dan Dara Quthni).

□   □   □   □   □

.

■ Hadits No. 310 :

Dan dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Aku pernah melihat Rasululloh SAW. mengusap bagian atas punggung dua alas kakinya. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, sedang lafadz Tirmidzi berbunyi: atas dua alas kakinya, yaitu di punggungnya. Dan Tirmidzi mengatakan: Hadis ini Hasan.)

□   □   □   □   □

.

■ Hadits No. 311 :

Dari Tsaur bin Yazid dari Raja’ bin Haiwah dari Warrad penulis Mughirah bin Syu’bah- dari Mughirah bin Syu’bah, bahwa Nabi SAW. pernah mengusap bagian atas alas kaki dan bawahnya. (HR Imam yang lima kecuali Nasa’i, dan Tirmidzi mengatakan: Hadits ini Ma‘lul,(cacat) dan tidak ada yang memarfu’kannya (Menyambungkannya) dari Tsaur selain Al Walid bin Muslim, sedang aku pernah bertanya kepada Abu Zar’ah dan Muhamad tentang hadits ini, lalu keduanya menjawab: Tidak)

□   □   □   □   □

.

——————–Perkataan “kalau seandainya agama itu (ditentukan) dengan ra’yu” itu, syarih berkata: Hadits ini menunjukkan, bahwa mengusap yang diperintahkan itu ialah mengusap bagian atas alas kaki, bukan bawahnya, Dan orang yang berpendapat mengusap bagian atas dan bawah itu berdalil dengan hadits Mughirah, sedang hadits itu masih diperbincangkan. Jadi antara kedua hadits tersebut tidak  bertentangan. Sedang tujuan utamanya, yaitu bahwa Nabi SAW. kadang-kadang mengusap bagian atas dan bawah alas kakinya, kadang-kadang cukup dengan mengusap bagian atasnya saja, sedang tidak ada satu riwayat yang melarang salah satu di antara dua cara tersebut. (Oleh karena hadits mughirah itu tidak sah, maka cukup mengusap itu pada bagian atas saja).

.

POSTING |89| Samina, Waatona !.

.

 ______________________________

Bab-Bab : Mengusap Alas Kaki (Kasut)

.


4. | Bab. Ketentuan Lamanya Boleh Mengusap Alas Kaki

▫▫▫▫▫▫▫

.

Masalah ini telah dibahas sebelumnya dalam hadits Shafwan dan Abu Bakrah

.

■ Hadits No. 307 :

Dan Syuraih bin Hani’ meriwayatkan, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang mengusap dua alas kaki ini, lalu ia berkata: Tanyakanlah kepada Ali karena sesungguhnya ia lebih tahu tentang masalah ini daripada aku, ia pernah pergi bersama Rasululloh SAW. Maka aku tanyakan kepada Ali, lalu ia menjawab: Rasululloh SAW. bersabda: “Bagi musafir boleh mengusap tiga hari tiga malam, dan bagi muqim sehari semalam”. (HR Ahmad, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah).

▫▫▫▫▫▫▫

.

■ Hadits No. 308 :

Dan dari Khuzaimah bin Tsabit dari Nabi SAW., bahwa Nabi SAW. pernah ditanya tentang mengusap dua alas kaki, lalu jawabnya: “Bagi musafir boleh mengusapnya tiga hari tiga malam, dan bagi muqim sehari semalam.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengesahkannya).

▫▫▫▫▫▫▫

.

——————–Syarih rahimahulloh berkata: Hadits ini menunjukkan ketentuan bolehnya  mengusap, yaitu tiga hari tiga malam bagi musafir dan sehari semalam bagi muqim, dan hadits ini juga menunjukkan bahwa Alas Kaki tidak perIu dilepas karena terjadinya hadas-hadas dalam waktu yang telah ditentukan itu selain karena janabat.

.

.

POSTING |88| Samina, Waatona !.

.

 ______________________________

Bab-Bab :  Mengusap Alas Kaki (Kasut)

.

.


3. | Bab. Disyaratkan Suci Sebelum Memakai Alas Kaki

.

■ Hadits No. 301 :

Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Aku pemah bersarna Nabi SAW. pada suatu malam dalam suatu perjalanan, lalu aku tuangkan air untuk Nabi SAW. dari kirbah  (yaitu tempat air dari kulit),  lalu Ia membasuh muka­nya, dan membasuh dua lengannya, serta mengusap kepalanya, kemu­dian aku membungkuk untuk melepaskan dua alas kakinya, lalu Nabi SAW. ‘bersabda: “Biarlah, karena sesungguhnya aku sebelumnya memakai dalam keadaan suci,”, lalu ia mengusap keduanya. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim).

▫▫▫▫▫▫▫

.

■ Hadits No. 302 :

Dan bagi Abu Dawud (dikatakan): Biarkanlah dua alas kaki itu, karen a sesungguhnya aku memasukkan kedua kaki saya dalam keadaan suci, lalu Nabi SAW. mengusap keduanya.

▫▫▫▫▫▫▫

.

■ Hadits No. 303 :

Dan dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Kami pernah bertanya: Ya Rasululloh, apakah salah seorang dari kami mengusap dua alas kakinya? Ia menjawab: “Ya, apabila ia memasukkan keduanya dalam keadaan suci.” (HR Humaidi dalam Musnadnya.)

▫▫▫▫▫▫▫

.

■ Hadits No. 304 :

Dan dari Abu Hurirah, bahwa Nabi SAW. wudlu’ lalu mengusap dua Alas kakinya, Ialu aku bertanya: Ya Rasululloh, mengapa tidak engkau basuh dua kakimu itu? Ia menjawab: Karena sesungguhnya aku memasukkan kedua kakiku itu dalam keadaan suci.” (HR Ahmad)

▫▫▫▫▫▫▫

.

■ Hadits No. 305 :

Dan dari Shafwan bin AssaI, hi berkata: Rasululloh SAW. memerintahkan kepada kami, hendaknya kami mengusap kedua Alas Kaki, apabila kami memakainya dalam keadaan suci, tiga hari apabila kami dalam bepergian, dan sehari-semalam apabila kami di rumah, Dan kami tidak melepaskan keduanya karena buang air besar, kencing, dan tidur, dan kami tidak melepas keduanya kecuali karena janabat. (HR Ahmad dan Ibnu Majah. Dan Al Khatthabi berkata: Hadits ini shahih sanadnya)

▫▫▫▫▫▫▫

.

■ Hadits No. 306 :

Dan dari Abdirrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya dari Nabi SAW. bahwa Nabi SAW. memberi keringanan bagi musafir tiga hari tiga malam, dan bagi orang yang muqim (tinggal di rumah) sehari semalam untuk mengusap alas kakinya, apabila ia dalam keadaan bersuci ketika memakainya itu. (HR Al Atsram di dalam Sunannya dan Ibnu Khuzaimah dan Dara Quthni, dan Al Khatthabi berkata: Hadits ini shahih sanadnya.

▫▫▫▫▫▫▫

.

.

Syarih berkata: Perkataan “Aku memasukkan keduanya dalam keadaan suci:” itu, menunjukkan disyaratkannya SUCI ketika memakai. Alasan tidak dilepaskannya, karena ketika memasukkan kakinya itu dalam keadaan suci. Dan apabila memasukkan kedua kaki dalam keadaan tidak suci,  itu mengharuskan untuk dilepas. Demikian pendapat As Syafi’i, Malik, Ahmad dan .ishaq. Dan hadis. ini dipakai sebagai dalil bahwa kesempurnaan kesucian pada dua kaki Itu adalah sebagai syarat,

.

.

.

POSTING |87| Samina, Waatona !.

.

 ______________________________

Bab-Bab :  Mengusap Alas Kaki (Kasut)

.

.


2. | Bab. Mengusap Kaos Kaki Dan Sandal

■ Hadits No. 297 :

Dari Bilal, ia berkata: Aku pernah melihat Rasululloh SAW. mengusap dua Alas Kaki dan tutup kepalanya. (HR Ahmad)

_________________

.

■ Hadits No. 298 :

Dan bagi Abu Dawud (dikatakan): Nabi SAW. pernah keluar buang air, aku bawakannya air, lalu ia wudlu’ dan mengusap serbannya  serta dua alas kakinya.

_________________

.

■ Hadits No. 299 :

Dan bagi Sa’id bin Mansur di dalam Kitab Sunannya dari Bilal, ia berkata: Aku mendengar Rasululloh SAW. bersabda: “Usaplah serban dan Alas kaki.”

_________________

.

■ Hadits No. 300 :

Dan dari Mughirah bin Syu’bah, bahwa Rasululloh SAW. Wudlu’ dan mengusap dua kaos kaki dan dua sandalnya. (HR Imam yang lima kecuali Nasa’i.dan disahkan Tirmidzi)

_________________

.

———-Syarih rahimahullah berkata: Khuff yaitu sejenis sepatu dari kulit yang menuutupi mata kaki, dan jarmuq itu lebih besar dari khuff, yang dipakai di atas (diluar) khuff, sedang jaurab lebih besar dari jarmuq.

———-Syarih berkata. Hadits ini menunjukkan bolehnya mengusap bagian atas dua sepatu yang sejenis dengan alas kaki, yang  sebagiannya dipotong  menutupi betis. Hal ini juga menunjukkan bolehnya mengusap jaurab. Sekaligus pula menunjukkan bolehnya mengusap dua sandal, dan menurut satu pendapat, bahwa dua sandal ini hanya boleh diusap apabila dipakai di luar jaurab.

———-As Syafi’i berkata: Tidak boleh mengusap jaurab kecuali bersama sandal yang dipakai berjalan. Al Muwaffiq berkata di dalam Al Mughni: Mengusap jaurab itu dengan dua syarat: pertama, hendaklah kaos kaki itu tebal sehingga tidak nampak kaki itu sedikit pun, kedua yang dapat dipakai untuk berjalan, ini menurut dlahirya perkataan Al Kharqy

———-Imam Ahmad berkata tentang mengusap jaurab dengan tanpa sandal sebagai berikut: Kalau iaberjalan di atasnya dan keduanya tetap melekat , pada kakinya, maka tidak mengapa, dan di dalam suatu tempat ia berkata: Diusaplah atas keduanya apabila keduanya tetap di tumit, dan di tempat lain lagi ia berkata: Apabila dia dipakai dengan memakai kaos kaki itu tidak melipat, tidak mengapa diusap, sebab kalau melipat, maka akan nampaklah tempat wudlu’ dan waktu itu tidak dianggap menutupi kulit (Nampaknya ini model kaos kaki jaman dahulu).

.

.

.

POSTING |86| Samina, Waatona !.

.

 ______________________________

Bab-Bab :  Mengusap Alas Kaki (Kasut)

.

.


1. | Bab. Diperintahkannya Mengusap Alas Kaki

.

.

BAB-BAB MENGUSAP ALAS KAKI (SEPATU)


■ Hadits No. 294 :

Dari Jarir, bahwa ia telah buang air kecil kemudian wudlu’ dan mengusap bagian atas dua alas kakinya, lalu ia ditanya: Mengapa engkau berbuat demikian. Ia menJawab: Ya, karena aku melihat Rasulullah SAW.  buang air kecil kemudia wudlu’ dan mengusap bagian atas dua alas kakinya. Ibrahim berkata : maka hadits ini mengherankan mereka, karena masuk islamnya Jarir adalah setelah turunnya surat Ma’idah (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim).

_____________________________

.

■ Hadits No. 295 :

Dan dari Abdillah bin Umar, bahwa Sa’d telah memberita­hu dia dan Rasululloh SAW. , bahwa Rasulullah SAW. mengusap bagian atas dua alas kakinya, dan sesungguhnya Ibnu Umar telah bertanya kepada Umar ten­tang masalah Itu, lalu Umar menjawab: Ya, apabila Sa’d memberitahu­kan apa-apa kepadamu dari Nabi SAW, maka janganlah bertanya tentang itu kepada lainnya. (HR Ahmad dan Bukhari dan disini menjadi dalil atas diterimanya hadits seorang (Hadits Ahad)).

_____________________________

.

■ Hadits No. 296 :

Dan dari Mughirah bin Syu’bah ia berkata: Aku bersama Nabi SAW. dalam suatu perjalanan, lalu ia buang air, kemudian berwu­dlu’, dan mengusap bagian atas dua alas kakinya. Aku bertanya. Ya Rasululloh, apakah engkau lupa? , Ia menjawab: “Bahkan engkau yang lupa, dengan inilah aku diperintah oleh Tuhanku azza wa jalla.“. (HR Ahmad dan Abu Dawud.)

Hasan basri berkata: Telah diriwayatkan tentang mengusap (bagian atas dua alas kaki) oleh 70 orang sahabat baik yang berkenaan dengan filliyah (Perbuatan) Nabi SAW. maupun qauliyyah (Ucapan) nya.

.

.

——————–Syarih rahimahulloh berkata: Hadits ini menunjukkan diperintahkannya mengusap bagian atas dua alas kaki. Dan Ibnul Mundzir telah meriwa­yatkan dari Ibnul Mubarak, katanya: Tentang mengusap ini tidaklah ada perbedaan pendapat di antara para Sahabat. Karena setiap orang yang meriwayatkan dari Sahabat yang menging­kari tentang mengusap Alas Kaki, maka didapati  juga yang meriwayatkan tentang ketetapan adanya mengusap Alas Kaki.

.

.

POSTING |85| Samina, Waatona !.

.

 ______________________________

  BAB MENGUSAP ALAS KAKI (SEPATU)

.

.

█ █

26. | Bab. Menyeka Badan Dengan Handuk Sesudah Wudlu’ Dan Mandi

_____________________________

.

■ Hadits No. 293 :

Dari Qais bin Sa’d, ia berkata: Rasulullah SAW. telah mengunjungi kami di rumah kami, lalu Sa’d menyuruh orang lain untuk mengambilkan air mandi untuk Nabi SAW., kemudian ia mele­takkan untuknya, lalu mandilah ia (Nabi SAW.), kemudian ia memberi­nya handuk yang dicelup dengan za’faran atau waras, lalu ia berseli­mut dengannya. (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Abu Dawud).

_____________________________

.

Syarih rahimahullah berkata: Hadits ini menunjukkan tidak makruh menyeka badan dengan handuk (sesudah wudlu’ dan mandi).

.

POSTING |84| Samina, Waatona !.

.

 ______________________________

  BAB SIFAT WUDLU’ (FARDLU DAN SUNNATNYA)

.

.

█ █

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.